Showing posts with label lnspiration. Show all posts
Showing posts with label lnspiration. Show all posts

Wednesday, March 16, 2011

Tukang Becak Paling Mulia

Kisah Bai Fang Li ini saya harap menjadi pelajaran hidup bagi kita semua untuk saling membantu sesama kita yang kesusahan, walaupun hidup serba pas-pasan tetapi tetap membantu orang tanpa pamrih

Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.


Tersentuh...Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu menga
ngkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan
mengantar anak itu ke tempat tinggalnya. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.


Tak Menuntut Apapun...
Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

Saturday, September 5, 2009

Women of Strength



Women have strengths that amaze ...

They carry children, they carry hardships, they carry burdens,
yet they hold faith, happiness, love and joy.
They smile when they want to scream.
They sing when they want to cry.

They volunteer for good causes.
They are pink ladies in hospitals, they bring food to shut ins.
They are senators, educators, childcare workers, executives, attorneys,
truck drivers, pilots, stay at home moms and your neighbors.

They fight for what they believe in. They stand up against injustice.
They write to the "powers that be" for things that make for a better life.
They don't take "no" for an answer when they believe there is a better solution.

They can wipe a tear, cover a cut and pat you on the back at the same time.
They go without new shoes so their children can have them.
They go to the doctor with a frightened friend.

They tell people that need to be told to straighten up their act.
They lend a shoulder to cry on, an ear to listen
and a voice to make suggestions.

Their hearts break when a friend dies.
They have sorrow at the loss of a family member,
yet they are strong when they think there is no strength left.
They can round up energy, even when they are tired.
They can stay up a little longer to talk to someone that needs a friend.

Women do more than give birth. They bring peace and hope.
They give compassion and ideals.
They give moral support to their family and friends.
They weep with joy when their children excel,
and cheer when loved ones get awards.

Women want people to grow into the best person they can be.
They want to touch you in a way that
will make you share your goodness with others.

The beauty of a woman is not in the clothes she wears,
the figure that she carries, or the way she combs her hair
... true beauty in a woman is reflected in her soul.

The beauty of a woman must be seen from her eyes because
that is the doorway to her heart, the place where love resides.
The heart of a woman is what makes the world spin!


~ Author Unknown ~

Friday, September 4, 2009

Hasrat Untuk Berubah

HASRAT UNTUK BERUBAH

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin merubah dunia, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah
Maka cita-citaku pun agak kupersempit, lalu kuputuskan hanya merubah negeriku, namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku telah makin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk merubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya merekapun tidak mau diubah, dan kini sementara aku berbaring disaat ajal menjelang.
Tiba-tiba kusadari :
“ Andaikan yang pertama-tama kurubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin akan bisa mengubah keluargaku “.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku ; kemudian siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia.
Puisi ini tertulis di sebuah makam
Di Westminster, Inggris 1100 M

Saturday, February 21, 2009

Syukur

'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN'
(dari seorang sahabat)
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga
dan seorang malaikat menemaniku

dan menunjukkan keadaan di surga.
Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja
penuh dengan para malaikat.

Malaikat yang mengantarku berhenti di depan

ruang kerja pertama dan berkata, " Ini adalah Seksi

Penerimaan"
"Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku

dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang

memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis

pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
   Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui
koridor yang panjang lalu

sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan
dan Pengiriman"
"Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses
dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.

Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu

banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan

untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada
ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti

pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu
malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata

Malaikatku pelan.
Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan

disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. " Setelah
manusia menerima rahmat

yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang

mengirimkan pernyataan terima kasih".
  "Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas
rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata, 'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih,

Tuhan".
  "Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan

di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu,

atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka

engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.
"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan
uang-uang receh, maka

engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.
"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer
mu, engkau adalah bagian

dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.
Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih
banyak kesehatan

daripada kesakitan ... engkau lebih dirahmati

daripada begitu banyak orang

di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga

hari ini.
"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam
perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan,

atau kelaparan yang amat sangat ....

Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di

         dunia".
 "Jika engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan
religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan,

penangkapan, penyiksaan, atau kematian ...

maka engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di

dunia.
    "Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam
ikatan pernikahan ...

maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,
maka engkau bukanlah

seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan

semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.
   "Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau
menerima rahmat ganda,

yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu

berpikir bahwa engkau

orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa,

engkau lebih dirahmati

daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang

bahkan tidak dapat membaca

sama sekali".
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah
Allah anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan
ini ke semua teman-teman-mu untuk mengingatkan mereka betapa

dirahmatinya kita semua.
"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
'Sesungguhnya jika kamu

bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak

nikmat kepadamu' ".

(QS:Ibrahim (14) :7 )